Jumat, 24 Oktober 2025

Puisi



 AKU, BUKU

Semua mengenalku, “Gudang Ilmu”.
Apa pun yang ingin kautahu, tersimpan di dada sunyiku.
Namun, mengapa kau enggan menjumpaiku?

 

Tolong, jangan abaikan aku,
debu menari di atas tubuhku.
Aku ingin lusuh dimakan waktu,
letih dipeluk jemarimu yang dulu.

 

Aku iri pada konsol game, disambut tawa.
Aku iri pada televisi, disapa mata setiap senja.
Aku iri pada gawai, digenggam penuh cinta.


Tapi aku,
diam di rak tuaku.
Menunggu, dan menunggu,
kau kembali membuka dunia di dadaku.

 

Cililin25 Oktober 2025


Selasa, 23 September 2025

Puisi

TEMBERENG RASA

 

Rasa tak hanya tentang mengganyang senyum simpulmu,

pun kesimpatikanmu.

Apakah aku sedang menggumuli?

Ataukah sebaliknya, berharap digumuli?

 

Barangkali harus kuminta,

kuminta hatimu memenda,

memenda segala ...

segala yang di luar kuasa.

 

Namun, lihatlah!

tak lelah

dan tak kan lelah

memunguti tembereng rasa, sekalipun berdarah-darah.


Cililin, 16 Mei 2017 (00:05)

Wiwin Damayanti


Puisi Patidusa

BIANGLALA BAHTERA

 

Ketika bianglala melepas jingga

Sabak menutupi cakrawala

Terkungkung mayapada

Prahara

 

Terkecewa, ungu nyatalah fana

Tersadar merindukan nila

Kekata terbata-bata

Terlara-lara

 

Kuning lesap dalam singgasana

Memungut hijau, merupa

Mengidung dedoa

Bergelora

 

Hening berkukuh, merah berona

Biru perlahan menggema

Mengeja rona-Nya

Bahtera

 

Wiwin Damayanti

Cililin, 07 Januari 2017

(Puisi Terbaik Keempat dalam Sayembara Cipta Sajak/ Puisi Tingkat Nasional pada event "Indonesia Bersajak" tahun 2017 yang diselenggarakan oleh SSAN dan Poetry Publisher)



Puisi Patidusa

KURANGKUL TEMARAM

 

Binar harapan lama bersemayam

Terjaga, erat kugenggam

Tetiba padam

Suram

 

Cakrawala nan tajam menghunjam

Suryaku tergiring, terbenam

Kurangkul temaram

Muram

 

Pekatnya malam kian mencekam

Jejakku hilang, tenggelam

Tertelan kelam

Hitam

 

Netraku meratap, enggan terpejam

Dicumbu getirnya alam

Nian menikam

Kejam

 

Wiwin Damayanti

Cililin, 07 April 2016

(Puisi Terbaik Kedua dalam Lomba Menulis Puisi Bertema Bebas pada event "Indonesia Berkreasi Tanpa Batas" tahun 2016 yang diselenggarakan oleh grup kepenulisan SSAN dan Penerbit Rumah Kita)



Puisi Patidusa

SAJAKKU

 

Sajakku

Engkau cenderaku

Tersurat, menyusuri waktu

Enggan bersibak, kukuh bersatu

 

Sajakku

Engkau nadaku

Syahdu pun sendu

Mengalun selaras, elok berpadu

 

Sajakku

Engkau pelangiku

Memupus langit kelabu

Mewarnai jejak, kian menggebu

 

Sajakku

Engkau rembulanku

Benderangi malam selalu

Pendarmu, tiada pernah berlalu

 

Wiwin Damayanti

Cililin, 03 Mei 2016

(Puisi Terbaik 8 pada event "Hari Puisi Nasional" tahun 2016 yang diselenggarakan oleh CTA Creation)



Puisi

ADALAH RASA

 

Yang kian menjalari atma ini adalah rasa

Rasa yang tak terlahir dari mata

Rasa yang tak merunjung tanpa bersua


Yang bersemayam dalam hati ini adalah rasa

Rasa yang kusemai karena-Nya

Rasa yang kupupuk dengan dedoa

 

Bersemi, berona ...

Mewujud ayatayat cinta

Berbuah rindu, adiwarna

 

Wiwin Damayanti

Cililin, 15 Juli 2017 (14:50)

(Salah satu puisi terpilih dalam lomba Cipta Puisi "RUAS ke-4 Indonesia-Malayasia" tahun 2017)



Minggu, 21 September 2025

Artikel

 



RADHY CINTA CTPS 

Semenjak di sekolah ada kegiatan cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan gizi remaja, Muhammad Radhy yang biasa dipanggil Radhy mengalami beberapa perubahan yang positif dalam kehidupannya. Perubahan yang dianggapnya sebagai perubahan paling penting adalah tumbuhnya kesadaran di dalam dirinya dalam mencuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar terutama di 7 waktu penting CTPS: sebelum memegang dan menyajikan makanan, setelah dari toilet/jamban, setelah bermain, setelah menyentuh benda-benda dan hewan peliharaan, setelah bersin/ batuk, setelah beraktivitas di luar rumah, dan sebelum dan setelah memegang masker.

 

Radhy berusia 14 tahun, ia merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Bersama kedua orang tua dan kedua adiknya, Radhy tinggal di Blok Sinar Jaya Desa Batujajar Barat Kecamatan Batujajar Kabupaten Bandung Barat Provinsi Jawa Barat. Pada saat ini Radhy tercatat sebagai seorang pelajar SMP kelas 8 di salah satu sekolah swasta terbesar di sub rayon 04 kabupaten Bandung Barat yakni SMP Darul Falah 2 Cihampelas. Di sekolah, Radhy diamanahi menjadi sekretaris OSIS. Sebagai sekretaris OSIS, Radhy harus aktif dan memberi contoh yang baik kepada teman-temannya, termasuk dalam menjaga kebersihan dan kesehatan, salah satunya mencuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar. Hal ini dapat terlihat dalam aktifitas cuci tangan Radhy di sekolah pun di rumah. Ketika Radhy jajan di kantin sekolah, sebelum memakan jajanan tersebut Radhy mencuci tangan pakai sabun terlebih dahulu. Setelah dari jamban, Radhy selalu mencuci tangan pakai sabun. Setelah bermain, seperti bermain sepak bola dengan teman-teman rumahnya, Radhy selalu cuci tangan pakai sabun, dan ia pun mengajak teman-temannya tersebut untuk cuci tangan pakai sabun. Setelah menyentuh benda-benda dan membelai Simon, kucing peliharaannya di rumah, Radhy selalu cuci tangan pakai sabun. Saat bersin/batuk, setelah beraktivitas di luar rumah, sebelum dan setelah memegang masker Radhy cuci tangan pakai sabun. Dan cuci tangan pakai sabun yang Radhy lakukan ini adalah dengan baik dan benar di mana dengan 6 langkah tepat mencuci tangan yang diawali dengan 3 langkah  do’a, sehingga menjadi 9 langkah: 1. do’a mencuci tangan, 2. do’a membasuh tangan kanan, 3. do’a membasuh tangan kiri, 4. menggosok sabun pada telapak tangan kemudian mengusap dan menggosok kedua telapak tangan secara lembut dengan arah memutar, 5. mengusap dan menggosok kedua punggung tangan secara bergantian, 6. menggosok sela-sela jari tangan hingga bersih, 7. membersihkan ujung jari secara bergantian dengan posisi saling mengunci, 8. menggosok dan memutar kedua ibu jari secara bergantian, 9. meletakkan ibu jari ke telapak tangan kemudian menggosok perlahan, membilas dengan air bersih dan mengeringkannya.

 

Kesadaran Radhy dalam mencuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar ini, berawal dari kegiatan gebyar cuci tangan pakai sabun (CTPS) dan gizi remaja sesi 1 (yakin bersih, mana buktinya) yang dilaksanakan di sekolah tepatnya pada hari Rabu, 09 November 2022, di mana kegiatan gebyar ini dibimbing oleh ibu Sri dan pak Ramdan selaku fasilitator gebyar CTPS dan gizi remaja SMP Darul Falah 2 Cihampelas. Gebyar ini diselenggarakan melalui program BISA (Better Investment for Stunting Alleviation) atau “Investasi Lebih Baik untuk Penurunan Stunting” yang merupakan sebuah kolaborasi Save the Children dan Nutrition International untuk mendukung pemerintah Indonesia untuk pencapaian Strategi Nasional untuk mempercepat penurunan stunting (2018-2024), di mana program ini dilaksanakan di di JABAR (Kab. Bandung Barat & Kab. Sumedang) dan NTT (Kab. TTU & Kab. Kupang). Sekolah Radhy; SMP Darul Falah 2 Cihampelas merupakan salah satu dari 30 sekolah sasaran pertama/ sekolah batch 1 di Bandung Barat yang disebut sebagai sekolah percontohan.

 

Sebelumnya Radhy tidak pernah memerhatikan 7 waktu penting mencuci tangan pakai sabun. “Saya memang suka cuci tangan pakai sabun, tapi jika mau makan nasi saja, itupun cuci tangannya biasa” ungkap Radhy, “maksudnya biasa asal pakai sabun, tidak sesuai dengan langkah-langkah cuci tangan pakai sabun yang baik dan  benar” lanjutnya menjelaskan. Namun setelah mengikuti gebyar, kebiasaan Radhy dalam mencuci tangan pakai sabun berubah menjadi lebih baik, tidak hanya pada saat akan makan nasi saja, namun kini Radhy selalu berusaha cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar pada setiap keadaan terutama di 7 waktu penting.

 

Sekalipun pelaksanaan gebyar hanya sebentar, hanya 3 kali sesi selama 3 minggu, namun Radhy merasa kegiatan gebyar banyak hikmahnya. “Kini di semua jamban sekolah disediakan sabun cair untuk mencuci tangan, di gerbang sekolah dan di pinggir ruang piket juga disediakaan tempat cuci tangan lengkap dengan sabunnya, kalau dulu kan hanya ada tempat cuci tangan saja, tidak disediakan sabunnya. Dan semenjak gebyar CTPS saya dan siswa lainnya selalu saling mengingatkan untuk sadar cuci tangan pakai sabun, seperti setelah kerja bakti kemarin, kami cuci tangan pakai sabun tanpa harus diingatkan oleh guru terlebih dahulu”, tutur Radhy.

 

Kesadaran Radhy dalam cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar tidak hanya dirasakan oleh Radhy sendiri tetapi juga oleh keluarganya. Di rumah, selain Radhy suka mengajak teman-teman bermainnya untuk cuci tangan pakai sabun, Radhy juga mengajak dan mengingatkan adiknya untuk selalu cuci tangan. “Dulu Ibu yang suka mengingatkan Radhy cuci tangan, sekarang alhamdulillah dia yang selalu mengingatkan adiknya untuk menjaga cuci tangan pakai sabun” tutur Ibu Radhy yang duduk di depan Radhy saat Radhy sedang diwawancara.

 

Dengan tumbuhnya kesadaran cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar ini, menjadikan Radhy cinta cuci tangan pakai sabun (CTPS), ia berharap hal ini dapat menjadikannya seseorang yang lebih baik, selalu sehat dan dapat memotivasi orang lain untuk sadar akan pentingnya cuci tangan pakai sabun dengan baik dan benar.


Cililin, 28 Desember 2022

Wiwin Damayanti

Cerpen


 28 JANUARI PUKUL 2 DINI HARI

Samar-samar terdengar kepakkan sayap berulang kali. Ini bukan mimpi… aku berusaha membuka mata. Benar saja kulihat ada yang sedang berputar-putar di langit-langit kamar. Segera kulepaskan selimut yang masih membungkus badan dan bangkit duduk. Kuambil seluler untuk melihat jam, ternyata pukul 02. “Hemmm… waktu kedatangannya sama” batinku sembari mengingat-ngingat kapan tepatnya, namun tak ingat, yang jelas sudah lama sekali.

 

Dia masih berputar-putar mengelilingi kamar, lama sekali. “Hei, sudah berhenti… ayo keluar” ucapku sambil memerhatikan geraknya. Setelah beberapa lama, dia pun keluar menuju ruang tengah melalui pintu kamar yang memang sudah terbuka. Kini dia memutari ruang tengah. Bergegas aku menyusulnya, kunyalakan lampu lalu duduk di sofa. “Hei… sudah… berhenti...” ucapku lagi. Seolah dia mendengarku, dia berhenti berputar dan perlahan bergerak turun ke lantai tepat di samping sofa. Aku mendekatinya, kembali aku memerhatikannya, namun kali ini begitu dekat, aku bisa dengan jelas melihat wujudnya. Sekilas tak ada yang aneh, dia nampak seperti chiroptera pada umumnya. Bulunya halus, tubuhnya berbentuk seperti tikus, memiliki lengan, tangan, kaki serta sayap yang terdiri atas selaput kulit lentur yang membentang antara tulang jari dan tulang lengan. Tapi aku tidak bisa menebak berapa usianya.

 

“Kamu nyasar?” tanyaku sekenanya sambil masih memerhatikannya. Baru saja ingin melanjutkan pertanyaan tetiba aku kebelet pipis. Dengan spontan aku bilang “bentar ya ingin pipis dulu”. Dipikir-pikir buat apa bilang-bilang, belum tentu juga dia dengar “tapi aku yakin dia dengar” bantahku pada diri sendiri. Kutinggalkan ia menuju kamar mandi. Seusai dari kamar mandi, kudapati dia sudah kembali terbang mengitari ruang tengah. “Hemmm… keluar ya” ucapku sama yang ketiga kalinya. Tak lama, dia pun meninggalkan ruang tengah menuju arah dapur, yang artinya menuju keluar, karena pintu keluar ada di dapur. Aku mengintip sebentar dan aku yakin dia keluar, walaupun pintu tertutup, tapi dari tadi juga kan pintu tertutup. “Dia bisa masuk dengan pintu tertutup, tentu dia juga bisa keluar dengan pintu tertutup” pikirku. Aku matikan lampu ruang tengah, dan kembali ke kamar.

 

Kuambil kembali seluler, aku lupa mengambil fotonya, karena dulu waktu dia datang aku sempat mengambil foto. Kubuka galeri foto, berharap belum terhapus karena rasanya sudah lama  sekali. Setelah mengecek 2094 foto yang ada di album camera, akhinya fotonya ketemu. Kucek rincian foto, dan benar sekali sudah lama: 2022; setahun yang lalu. Dan kini, bukan hanya jamnya, tanggal dan bulannya pun nampaknya akan kuingat. Karena… selain jam nya sama; pukul 02 dini hari, tanggal dan bulannya pun ternyata sama; 28 JANUARI.

 

Wiwin Damayanti

28 Januari 2023

Cerpen


SEJUMPUT PENASARAN

Selepas Isya kurebahkan tubuhku yang sedikit kepayahan, tadi pulang menjelang maghrib. Akhir bulan ini sekolah tempatku mengajar akan akreditasi. Aku dan rekan-rekan kerja yang memegang delapan standar  harus  mempersiapkan banyak hal, kalau kata anak-anak dulu SKS kepanjangan dari ‘Sistem Kebut Semalam’. He... Betapa tidak, sekolahku bukanlah sekmod SPMI yang tak akan kerepotan ketika menjelang akreditasi karena semua dokumen sudah menjadi santapan keseharian.

Kuputuskan tidur lebih awal untuk mengumpulkan serpihan-serpihan semangat yang tercecer seharian tadi, untuk aku kemas besok pagi.

Mataku tak dapat terpejam dalam terang, baru saja hendak mematikan lampu, celuler berdering tanda telpon masuk. Akhirnya kutarik kembali tangan kananku yang hampir menyentuh stop  kontak lampu di sebelah ranjang. Segera kuambil celuler yang tadi kutaruh di atas buku novel  terbaru karya penulis idolaku  ‘Tere Liye’ yang baru dua hari aku baca, ingin rasanya segera melahap habis semua halaman, namun karena persiapan akreditasi terpaksa dibaca sebentar-sebentar saja.

“Assalaamu’alaikum, Teteh.?” 

Rupanya telpon dari A Hadi, calon imamku.

“Wa’alaikumsalaam Aa.”

Begitulah kami saling memanggil , Teteh-Aa, bukan ingin meniru AA Gym dan Teh Ninih, sungguh jauh sekali untuk menjadi seperti mereka yang maasyaaAllah luar biasa, tapi memang karena kebetulan aku dan A Hadi sama-sama kelahiran Bandung.

“Lagi apa? Sudah witir? Sudah baca buku? apakah malam ini membuat puisi?”

Tanya A hadi memberodong. A Hadi sudah tahu beberapa kebiasaan dan hobiku. Salah satunya kebiasaanku sebelum mata terpejam berlayar di alam mimpi: membaca buku dan membuat puisi, ya puisi yang biasanya tertulis begitu saja setelah membaca sebuah buku atau mengalami sesuatu hal.

“Lagi mau tidur A, belum witir he..., insyaaAllah nanti setelah shalat malam witirnya, ini lelah banget.  Baca buku sudah tadi sebentar sambil nunggu Isya. Malam ini sama dengan malam-malam sebelumnya tidak ada puisi, puisinya tertelan RPP hehe”

Jawabku panjang lebar tanpa membiarkan A hadi menyahut. Tapi tak salah, kan sesuai dengan pertanyaan. Kutebak pasti dia terkekeh mendengar akhir kalimatku. 

“hehehehe....”

Benar saja terdengar A hadi tertawa kecil.

“Pasti masih karena persiapan akreditasi ya Teteh kelelahan?”

“Iya A.”

Jawabku  pendek. 

“Teteh Sabar ya, jangan ngeluh. Niatkan semuanya karena Allah, insyaaAllah lelahnya jadi libadah. Semangat!”

Seperti biasa A Hadi selalu mengingatkanku pada Allah, pada kebaikan, selalu menyemangati.

“Astaghfirullaahal’adhiima wa-atuubu ilaihi,”

Ucapku lirih dalam hati memohon ampun pada-Nya atas keluhanku. Tanpa disadari aku sudah mengeluh dengan mengatakan ‘aku lelah’ dan ketika mengeluh sama halnya aku tidak ikhlas.

“Astaghfirullaahal’adhiima wa-atuubu ilaihi”

Lamat-lamat kulangi dengan lisan, hingga terdengar oleh A Hadi.

“Alhamdulillah..., semoga kita selalu dalam ampunan-Nya. Aa hanya ingin bilang, besok di waktu luang, buku yang tadi segera dibaca ya. Agar Aa dapat segera menyampaikan apa yang harus Aa sampaikan, karena kini sudah saatnya. Ya sudah, Teteh sekarang istirahat biar tidak telat nanti sepertiga malamnya.”

“Aamiin... Bukunya sudah disimpan di rak buku, tadinya mau dibaca seusai menamatkan buku novel baru Tere Liye. Muhun insyaaAllah besok dibaca. Emmm maaf menyampaikan apa Aa?”

Tanyaku penasaran.                                             

“Dibaca dulu saja bukunya besok, sekarang Teteh istirahat ya, assalaamu’alaikum”

“wa’alaikumssalaam.”

Kami mengakhiri percakapan. Kutaruh kembali celuler di atas buku dan kutaruh sejumput penasaran dalam benakku, apakah yang ingin A hadi sampaikan. Tadi siang saat menemuiku di sekolah untuk meminjamkan buku “Kupinang Engkau untuk suamiku” karya Rini Yulianti tersebut, A Hadi tidak mengatakan apa-apa.


Wiwin Damayanti

Cililin, 10 Februari 2018 (22:10)

Selasa, 28 Maret 2017

HAIKU

Fajar pun tiba
Pendar di cakrawala
Menyongsong surya

Cililin, 04052016


Langit nan mendung
Rintik hujan pun turun
Dedaun basah

Cililin, 01052016


Terik mentari
Dahaga pun mendera
Peluh mengalir

Cililin, 02042016


Hening meriuh
Ayam jantan berkokok
Fajar menyingsing

Cililin, 01042016

Puisi

  AKU, BUKU Semua mengenalku, “ Gudang Ilmu”. Apa pun yang ingin kautahu, tersimpan di dada sunyiku. Namun, mengapa kau enggan menjumpaiku? ...